Psikologi di Balik Tokoh Joker Dalam Trilogi Christoper Nolan
Author
Tokoh Joker yang akhir-akhir ini banyak diperbincangkan oleh penikmat film dari seluruh dunia memang menarik untuk dibahas. Pasalnya, film ini yang mengambil adegan tokoh Joker di dalamnya selalu berkaitan dengan kejahatan hingga kekerasan yang kurang layak jika ditonton oleh anak-anak dan remaja.
Psikologi Dibalik Tokoh Joker
Joker sudah tidak asing lagi bagi kalangan pecinta film bergenre kekerasan. Karakternya selalu menarik perhatian. Oleh karena itu Kita akan membahas seperti apa sajakah psikologi di balik tokoh Joker? Berikut ulasannya.
1. Berada pada Karakter Hidden Area
Jika Anda membaca studi Johari Window, terungkap bahwa manusia memiliki empat area yang berbeda dalam dirinya yakni open area, hidden area, blind area, dan unknown area. Karakter Joker sendiri menggunakan hidden area sebagai relasi antara dirinya dengan orang lain. Singkatnya, Joker selalu menyembunyikan apa yang benar-benar dirasakannya kepada orang lain. Emosi yang ditampilkannya hanyalah sebuah ‘‘topeng’’ yang dimunculkan dihadapan orang lain.
2. Pseudobulbar Affect atau PBA
Salah satu yang menjadi fokus utama saat berada di film yang membawa karakter Joker adalah cara tertawa Joker yang bisa dikatakan sedikit ‘’mengerikan’’. Menurut istilah psikologi, karakter Joker memiliki gangguan PBA atau Pseudobulbar Affect. PBA merupakan keadaan dimana terjadi gangguan saraf yang diakibatkan oleh kerusakan pada korteks prefrontal.
Korteks prefrontal ini merupakan salah satu area pada otak yang mengendalikan emosi seseorang. Arthur Fleck atau Joker dapat mengalami hal ini karena trauma otak yang dideritanya sejak kecil sebagai bentuk respon dari penganiayaan yang diterimanya.
3. Skizofrenia
Jika Anda melihat setiap film yang membawa karakter Joker di dalamnya, sosok Joker merupakan sosok yang delusional atau sering berimajinasi hingga keluar batas. Gangguan yang dialami oleh Joker ini dinamakan skizofrenia. Penyebab utama seseorang dapat mengalami gangguan psikologi jenis ini adalah faktor genetika.
Melihat dari apa yang dialami oleh karakter Joker, sudah sepatutnya gangguan kejiwaan atau psikologis menjadi perhatian Kita semua. Gangguan psikologis bukanlah suatu hal yang bisa dijadikan bahan ejekan ataupun diremehkan.
Demikianlah ulasan psikologi pada karakter Joker yang terdapat pada Trilogi Christhopher Nolan yang perlu Anda ketahui. Karakter Joker menjadi tamparan bagi Kita semua bahwa gangguan psikologi menjadi salah satu problematika yang perlu diperhatikan dan disembuhkan.
